Friday, 18 September 2015

Bagaimanakah cara Leluhur Nusantara membangun Candi?



Apa yang dimaksud dengan candi ?
Menurut Pak Soekmono (dia salah satu maestro arkelogi di Indonesia), candi adalah tempat memuliakan orang-orang yang sudah meninggal. Ini masih ada kaitannya dengan asal kata "candi" itu sendiri, yaitu "candika", nama lain dari Dewi Durga, dewi kematian.

namun masyarakat terkadang menggunakan istilah candi untuk menyebut bangunan peninggalan dari masa Hindu-Budha di Indonesia. Terkadang juga digunakan untuk menyebut bangunan bersejarah agama Hindu-Budha di luar negeri seperti candi Angkor Wat di Kamboja dan candi Khajuraho di India.

Namun yang unik adalah dalam prasasti-prasasti atau naskah-naskah kuno yang sudah ditemukan dan diterjemahkan, tidak ditemui istilah candi. Sebutan yang digunakan adalah Padharman, Dharma Haji, Dharma Lpas, Prasada, Bhavana, Vihara, Parahyangan, Pangastulan, Tirth, atau Patirthan.

Sejak kapan tradisi pembangunan candi masuk ke Nusantara?
Sebelum tradisi Hindu-Budha masuk ke Nusantara, tidak ada tradisi membangun bangunan dari batu. Jika pun ada, jumlahnya sedikit sekali. Ketika agama Hindu dan Budha masuk ke Nusantara, tempat pemujaan awalnya pun masih terbuat dari kayu. Kemudian digunakanlah batu sebagai bahan bangunan. Itupun masih berukuran kecil dan masih minim ornamen dan masih ada unsur Indianya.

Istimewanya candi di Nusantara menurut Bosch adalah dari segi teknis, mungkin tidak begitu mengagumkan, tapi dari segi seni, candi-candi di Nusantara memiliki nilai yang tinggi. Hingga kini, bangunan candi tertua masih dilihat pada gugus candi Hindu di Dieng. 

Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa raja-raja Nusantara mendatangkan arsitek langsung dari India untuk memebangun candi, tapi teori ini masih lemah karena tidak ditemukan candi bercorak India, misalnya penggunaan pilar. Kemudian munculah teori baru bahwa arsitek Indonesia lah yang membangun candi dan mereka membangun candi sesuai yang tertera dalam kitab Silpasastra (kitab yang berisi kaidah pembangunan candi).

Latar belakang orang zaman dahulu dalam membangun candi
Latar belakang candi dibangun adalah untuk Memuliakan orang yang meninggal atau sering disebut dengan didharmakan. Biasanya yang didharmakan adalah orang penting seperti raja, bangsawan, atau agamawan. Dalam tradisi Hindu Budha tidak mengenal tradisi penguburan, yang ada adalah pembakaran mayat yang kemudian abunya dilarung ke laut sebagai simbol terpisahnya roh dari unsur keduniawian yang selanjutnya akan menyatu dengan dewa yang dulu menitis pada seorang raja (mirip dengan konsep Avatar).Setelah melalui berbagai upacara, barulah didirkan candi untuk mendharamakan raja. Untuk candi Budha,
Candi juga dibangun sebagai tempat pemujaan atau sebagai biara. Abu jenazah biasanya disimpan di stupa-stupa dekat candi. Ketika candi dibangun, tanah didirikanya sebuah candi dijadikan sebuah Sima atau tanah perdikan (tanah bebas pajak) melalui berbagai upacara. Penetapan Sima ini biasanya dicatat pada sebuah prasasti. Candi memiliki konsepsi yang jauh lebih rumit daripada bangunan-bangunan pada masa kini, konsepsi sebuah candi meliputi:

1.Candi merupakan tiruan dari gunung suci, yaitu Mahameru dan Kailasa, jadi banyak sekali ornamen tumbuhan yang ada dalam sebuah candi.

2.Sebuah candi harus memiliki konsep geometri suci atau dalam tradisi India disebut Mandala.

3.Candi merupakan simbol dari rahim atau Grbagrha.
4.Candi merupakan pusat dari peziarahan.
5.Candi merupakan imitasi dari surga, makanya banyak relief bidadari pada sebuah candi.
6.Sebuah candi merupakan penghubung antara surga dengan bumi.



Cara orang zaman dahulu membangun sebuah candi
Bagaimana orang-orang zaman dahulu membangun candi juga masih menjadi pertanyaan bagi arkeolog karena tidak ditemukan alat-alat untuk membangun candi. Teknik membangun candi tergantung dari bahannya sendiri. Untuk batu, biasanya digunakan susunan batu yang saling mengunci seperti pada mainan lego. Sedangkan untuk batu bata, biasanya batu bata akan direkatkan dengan cara digosok-gosokan menggunakan air.

Yang jelas, dalam membangun candi harus memerhatikan hal-hal yang ada dalam ilmu Vastusastra atau Silpasastra. Ilmu ini berisi berbagai hal mulai dari pemilihan jenis tanah, cara pengujian tanah, pembuatan diagram, detail bangunan, hingga pembagian kerjanya.

Pembagian kerja dalam membangun sebuah candi
Pembangunan sebuah candi tentuu membutuhkan pembagian kerja agar bisa berdiri dengan baik termasuk candi. Adapun pembagian kerja meliputi:

1.Yajamana : Yajamana adalah orang yang memerintahkan dan mendanai pembangunan sebuah candi.

2.Acharya : Imam, atau pendeta yang memimpin upacara pembuatan candi.

3.Sthapati : Arsitek, dipilih oleh Acharya.
4.Sutrhagin : Surveyor, bertugas untuk menentukan tanah tempat akan dibangunnya candi.
5.Taksaka : Tugasnya menghias candi dengan relief-relief dan membuat arca.
6.Vardhakin : Orang yang tugasnya mirip pekerja kasar, misalnya mengangkat batu,membuat perancah, atau menyusun

Bentuk dan susunan sebuah candi
Susunan candi dibagi menjadi 3 bagian yaitu bagian yaitu:

1.Kaki candi merupakan bagian bawah candi. Bagian ini melambangkan dunia bawah atau bhurloka. Pada konsep Buddha disebut kamadhatu. Yaitu menggambarkan dunia hewan, alam makhluk halus seperti iblis, raksasa dan asura, serta tempat manusia biasa yang masih terikat nafsu rendah.

2.Tubuh candi adalah bagian tengah candi yang berbentuk kubus yang dianggap sebagai dunia antara atau bhuwarloka. Pada konsep Buddha disebut rupadhatu. Yaitu menggambarkan dunia tempat manusia suci yang berupaya mencapai pencerahan dan kesempurnaan batiniah. 

3.Atap candi adalah bagian atas candi yang menjadi simbol dunia atas atau swarloka. Pada konsep Buddha disebut arupadhatu. Yaitu menggambarkan ranah surgawi tempat para dewa dan jiwa yang telah mencapai kesempurnaan bersemayam.
Pada dasarnya, candi merupakan tempat bertemunya surga,bumi,dan dunia bawah.



Bagian-bagian dalam candi
Dalam konsepsi India, bagian dalam candi melambangkan rahim atau disebut juga Grbhagrha. Pada bagian dalam candi Hindu biasanya kita akan temukan lingga, yaitu batu yang melambangkan dewa Siwa. Selain lingga, kita juga akan menemukan arca dewa yang merupakan penjelmaan seorang raja. Lalu pada bagian dasar candi, terdapat sumuran yang berfungsi untuk menyimpan peripih, yaitu kotak yang digunakan untuk menyimpan abu, entah abu jenazah atau abu hewan, serta lempengan emas yang bertuliskan mantra-matra, lalu ada permata, kaca, atau cangkang kerang. Pada bagian atas ruangan, terdapat rongga kosong yang fungsinya diyakini sebagai tempat bersemayamnya rohnya dewa. Lalu untuk candi Budha, kita akan dapatkan patung Budha serta pengiringnya.

Bagian-bagian luar candi
Pada bagian luar candi terdapat relief-relief yang menceritakan kisah tertentu. Pada candi Hindu, biasanya menceritakan kisah Mahabaratha atau Ramayana. Sedangkan pada candi Budha bisasanya menceritakan kisah perjalanan hidup sang Budha. Kemungkinan besar relief-relief pada masa itu diberi warna, namun seiring zaman,warna-warna tadi luntur. Ada juga antefix, yaitu hiasan segitiga pada bagian puncak dinding. Antefix dibuat untuk memberi kesan bangunan lebih tinggi daripada biasanya. Kemudia terdapat Jaladwara, yaitu semacam tempat pembuangan air hujan yang dihias sedemikian rupa. Selain itu, masih terdapat kala makara. Kala adalah hiasan pada bagian atas pintu candi yang berbentuk seperti wajah Iblis atau raksaksa Kala. Adapun Makara adalah hiasan di kaki tangga candi, biasanya berbentuk hewan aneh. Kala Makara berfungsi untuk menakut nakuti roh jahat agar tidak masuk ke dalam candi. Kala sendiri adalah dewa waktu. Di Jawa Timur, kala digambarkan memiliki taring besar pada bagian atas dan bawah mulut, berbeda dengan di Jawa Tengah yang taringnya hanya pada bagian atas. Selain itu, terdapat pintu masuk candi yang dibedakan menjadi dua, yaitu candi bentar yang tidak memiliki atap, dan paduraksa yang memiliki atap.



Tata letak candi dibagi menjadi dua, yaitu secara konsentris, dan secara berurutan. Secara konsentris, posisi candi yang lebih besar dikelilingi oleh anak-anak candi yang lebih kecil (candi perwara), sehingga candi paling besar ada di tengah bangunan. Sistem ini dipengaruhi oleh tata letak mandala. Contohnya pada Candi Sewu dan Candi Prambanan. Secara paralel yaitu posisi candi perwara berada di depan candi induk. Ada yang disusun berurutan simetris, ada yang asimetris. 

Ada juga pola denah memanjang ke belakang. Urutan pengunjung memasuki kawasan yang dianggap kurang suci berupa gerbang dan bangunan tambahan, sebelum memasuki kawasan tersuci tempat candi induk berdiri. Sistem ini merupakan sistem tata letak asli Nusantara yang memuliakan tempat yang tinggi, sehingga bangunan induk atau tersuci diletakkan paling tinggi di belakang mengikuti topografi alami ketinggian tanah tempat candi dibangun. Ada juga yang dibangun secara tersebar.

Contohnya pada Candi Sukuh dan Pura-pura di Bali. Arah hadap sebuah candi tergantung dari konsepsi dari tata ruangnya, secara kosmologis, candi menghadap ke arah barat atau timur. Candi terkadang menghadap ke arah gunung tertentu yang dianggap suci atau disebut dengan Chtonis.

hampir semua bagian tengah candi tidak berada tepat pada tengah bangunan, kecuali sebuah candi di Ngemplak, Sleman Yogyakarta.

lokasi untuk membangun candi
Sesuai dengan kitab Silpasastra, masyarakat membangun candi berdekatan dengan air, jika tidak ditemukan air, maka akan dibuat sebuah kolam, karena air merupakan salah satu unsur upacara. Selain itu candi dibangun pada sebuah puncak gunung karena ada kepercayaan bahwa gunung merupakan tempat bersemayamnya dewa. Contoh candi yang dibangun di puncak gunung adalah candi yang ada di gunung Penanggunan. Jadi bikin candi itu tidak asal-asalan kaya bangunan zaman sekarang. Semuanya ada konsepsinya.

Denah Candi sukuh yang memanjang ke belakang

Ukuran, kerumitan, dan kemegahan Candi 
Candi dibagi menjadi 3 berdasarkan dari ukuran, kerumitan, dan kemegahannya candi yaitu :
1.Candi Kerajaan, yaitu candi yang digunakan oleh seluruh warga kerajaan, tempat digelarnya upacara-upacara keagamaan penting kerajaan. Candi kerajaan biasanya dibangun mewah, besar, dan luas. Contoh: Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Panataran.

2.Candi Wanua atau Watak, yaitu candi yang digunakan oleh masyarakat pada daerah atau desa tertentu pada suatu kerajaan. Candi ini biasanya kecil dan hanya bangunan tunggal yang tidak berkelompok. Contoh: candi yang berasal dari masa Majapahit, Candi Sanggrahan di Tulung Agung, Candi Gebang di Yogyakarta, dan Candi Pringapus.

3.Candi Pribadi, yaitu candi yang digunakan untuk mendharmakan seorang tokoh, dapat dikatakan memiliki fungsi mirip makam. Contoh: Candi Kidal (pendharmaan Anusapati, raja Singhasari), candi Jajaghu (Pendharmaan Wisnuwardhana, raja Singhasari), Candi Rimbi (pendharmaan Tribhuwana Wijaya tungga dewi, ibu Hayam Wuruk), Candi Tegowangi (pendharmaan Bhre Matahun), dan Candi Surawana (pendharmaan Bhre Wengker).

Fungsi dari sebuah candi
1.Candi Pemujaan: candi Hindu yang paling umum, dibangun untuk memuja dewa, dewi, atau bodhisatwa tertentu, contoh: candi Prambanan, candi Canggal, candi Sambisari, dan candi Ijo yang menyimpan lingga dan dipersembahkan utamanya untuk Siwa, candi Kalasan dibangun untuk memuliakan Dewi Tara, sedangkan candi Sewu untuk memuja Manjusri.

2.Candi Stupa: didirikan sebagai lambang Budha atau menyimpan relik buddhis, atau sarana ziarah agama Buddha. Secara tradisional stupa digunakan untuk menyimpan relikui buddhis seperti abu jenazah, kerangka, potongan kuku, rambut, atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama, atau bhiksu Buddha terkemuka, atau keluarga kerajaan penganut Buddha. Beberapa stupa lainnya dibangun sebagai sarana ziarah dan ritual, contoh: candi Borobudur, candi Sumberawan, dan candi Muara Takus

3.Candi Pedharmaan: sama dengan kategori candi pribadi, yakni candi yang dibangun untuk memuliakan arwah raja atau tokoh penting yang telah meninggal. Candi ini kadang berfungsi sebagai candi pemujaan juga karena arwah raja yang telah meninggal seringkali dianggap bersatu dengan dewa perwujudannya, contoh : candi Belahan tempat Airlangga dicandikan, arca perwujudannya adalah sebagai Wishnu menunggang Garuda. Candi Simping di Blitar, tempat Raden Wijaya didharmakan sebagai dewa Harihara.

4.Candi Pertapaan: didirikan di lereng-lereng gunung tempat bertapa, contoh: candi-candi di lereng Gunung Penanggungan, kelompok candi Dieng dan candi Gedong Songo, serta Candi Liyangan di lereng timur Gunung Sundoro, diduga selain berfungsi sebagai pemujaan, juga merupakan tempat pertapaan sekaligus situs permukiman.
5.Candi Wihara: didirikan untuk tempat para biksu atau pendeta tinggal dan bersemadi, candi seperti ini memiliki fungsi sebagai permukiman atau asrama, contoh: candi Sari dan Plaosan
6.Candi Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contoh: gerbang di kompleks Ratu Boko, Bajang Ratu, Wringin Lawang, dan candi Plumbangan.
7.Candi Petirtaan: didirikan didekat sumber air atau di tengah kolam dan fungsinya sebagai pemandian, contoh: Petirtaan Belahan, Jalatunda, dan candi Tikus

Bahan-bahan untuk membangun candi
Ada bermacam-macam bahan yang digunakan untuk membangun sebuah candi,antara lain :
1. Batu andesit, batu bekuan vulkanik yang ditatah membentuk kotak-kotak yang saling kunci. Batu andesit bahan candi harus dibedakan dari batu kali. Batu kali meskipun mirip andesit tapi keras dan mudah pecah jika ditatah (sukar dibentuk). Batu andesit yang cocok untuk candi adalah yang terpendam di dalam tanah sehingga harus ditambang di tebing bukit.

2.Batu putih (tuff), batu endapan piroklastik berwarna putih, digunakan di Candi Pembakaran di kompleks Ratu Boko. Bahan batu putih ini juga ditemukan dijadikan sebagai bahan isi candi, dimana bagian luarnya dilapis batu andesit

3.Bata merah, dicetak dari lempung tanah merah yang dikeringkan dan dibakar. Candi Majapahit dan Sumatera banyak menggunakan bata merah.

4.Stuko (stucco), yaitu bahan semacam beton dari tumbukan batu dan pasir. Bahan stuko ditemukan di percandian Batu Jaya.
5.Bajralepa (vajralepa), yaitu bahan lepa pelapis dinding candi semacam plaster putih kekuningan untuk memperhalus dan memperindah sekaligus untuk melindungi dinding dari kerusakan. Bajralepa dibuat dari campuran pasir vulkanik dan kapur halus. Konon campuran bahan lain juga digunakan seperti getah tumbuhan, putih telur, dan lain-lain. Bekas-bekas bajralepa ditemukan di candi Sari dan candi Kalasan. Kini pelapis bajralepa telah banyak yang mengelupas.
6.Kayu, beberapa candi diduga terbuat dari kayu atau memiliki komponen kayu. Candi kayu serupa dengan Pura Bali yang ditemukan kini. Beberapa candi tertinggal hanya batu umpak atau batur landasannya saja yang terbuat dari batu andesit atau bata, sedangkan atasnya yang terbuat dari bahan organik kayu telah lama musnah. Beberapa dasar batur di Trowulan Majapahit disebut candi, meskipun sesungguhnya merupakan landasan pendopo yang bertiang kayu. Candi Sambisari dan candi Kimpulan memiliki umpak yang diduga candi induknya dinaungi bangunan atap kayu. Beberapa candi seperti Candi Sari dan Candi Plaosan memiliki komponen kayu karena pada struktur batu ditemukan bekas lubang-lubang untuk meletakkan kayu gelagar penyangga lantai atas, serta lubang untuk menyisipkan daun pintu dan jeruji jendela.



Sumber :

Share this

0 Comment to "Bagaimanakah cara Leluhur Nusantara membangun Candi?"