Wednesday, 16 September 2015

Burung hantu mitos atau fakta?


Burung hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, dan beberapa pulau-pulau terpencil.
Di dunia barat, hewan ini dianggap simbol kebijaksanaan, tetapi di beberapa tempat di Indonesia dianggap pembawa pratanda maut, maka namanya Burung Hantu. Walau begitu tidak di semua tempat di Nusantara burung ini disebut sebagai burung hantu. Di Jawa misalnya, nama burung ini adalah darès atau manuk darès yang tidak ada konotasinya dengan maut atau hantu. Di Sulawesi utara, burung hantu dikenal dengan nama Manguni.
Burung hantu dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan, tak seperti umumnya jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Bersama paruh yang bengkok tajam seperti paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan "wajah" burung hantu ini demikian mengesankan dan kadang-kadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang.
Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan daun-daun.
Ekor burung hantu umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya.
Kebanyakan jenis burung hantu berburu di malam hari, meski sebagiannya berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh dan sore (krepuskular) dan ada pula beberapa yang berburu di siang hari.
Mata yang menghadap ke depan, sehingga memungkinkan mengukur jarak dengan tepat; paruh yang kuat dan tajam; kaki yang cekatan dan mampu mencengkeram dengan kuat; dan kemampuan terbang tanpa berisik, merupakan modal dasar bagi kemampuan berburu dalam gelapnya malam. Beberapa jenis bahkan dapat memperkirakan jarak dan posisi mangsa dalam kegelapan total, hanya berdasarkan indera pendengaran dibantu oleh bulu-bulu wajahnya untuk mengarahkan suara.
Burung hantu berburu aneka binatang seperti serangga, kodok, tikus, dan lain-lain.
Sarang terutama dibuat di lubang-lubang pohon, atau di antara pelepah daun bangsa palem. Beberapa jenis juga kerap memanfaatkan ruang-ruang pada bangunan, seperti di bawah atap atau lubang-lubang yang kosong. Bergantung pada jenisnya, bertelur antara satu hingga empat butir, kebanyakan berwarna putih atau putih berbercak.
Burung hantu merupakan salah satu jenis burung hantu yang kerap digunakan sebagai hewan pembasmi hama tikus di sektor pertanian. Burung hantu merupakan musuh bebuyutan dari tikus. Karena itu mulai banyak petani maupun perusahaan pertanian yang menggunakan burung hantu untuk menanggulangi serangan tikus. Burung hantu lebih efektif dibandingkan pengendalian tikus menggunakan racun tikus, gropyokan (perburuan tikus melibatkan banyak orang secara bersama-sama dan serempak) dan lain-lain.


Sebagai predator alam, burung hantu jenis Serak jawa merupakan pemburu tikus yang paling populer dan andal, baik di perkebunan kelapa sawit maupun di pertanian padi. Dalam pertanian, sepasang burung hantu bisa melindungi 25 hektare tanaman padi. Dalam waktu satu tahun, satu ekor burung hantu dapat memangsa 1300 ekor tikus.
Burung hantu juga merupakan predator tikus yang efektif di perkebunan kelapa sawit. Penggunaan burung hantu bisa menurunkan serangan tikus pada tanaman kelapa sawit muda hingga di bawah 5 persen. Dari segi biaya, pengendalian serangan tikus menggunakan burung hantu lebih rendah 50 persen dibandingkan penanggulangan tikus secara kimiawi.
Sejumlah pemerintah daerah mulai menggunakan burung hantu untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi mereka, termasuk Pemerintah Kabupaten Pati. Mulai 2012, Bupati Pati Haryanto mencanangkan program penangkaran burung hantu, dengan biaya dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBD. Burung hantu yang ditangkarkan digunakan untuk membantu petani mengusir tikus. Pemerintah daerah juga berencana mengeluarkan peraturan daerah (Perda) yang isinya melarang perburuan burung termasuk jenis burung hantu.
Rencana pemerintah Kabupaten Pati mengeluarkan Perda larangan berburu burung hantu mendapat tanggapan positif dari Kementerian Kehutanan Indonesia. Kementerian Kehutanan Indonesia berencana menerbitkan Peraturan Menteri tentang perlindungan burung hantu yang mulai langka di Indonesia. Apalagi kelebihan-kelebihan yang dimiliki burung hantu dan belum kita ketahui?, berikut beberapa fakta mengenai burung hantu :

1. Mata Burung Hantu
Burung hantu memiliki mata yang besar dan menghadap lurus ke depan seperti manusia, tidak seperti jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Bersama paruh yang bengkok tajam dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, wajah burung hantu ini demikian unik dan terkadang menyeramkan. Bentuk bola mata Burung hantu adalah silinder.


Rancangan ini memberi burung pandangan menyatu yang hebat dan ia dapat melihat benda secara 3D (3 dimensi). Tapi dibalik matanya yang besar ternyata mata Burung ternyata tidak bisa melirik. Kelemahan ini berakibat pada wilayah penglihatan yang tidak luas (mungkin hanya 15-20 sudut derajat saja). Akan tetapi, untuk menutupi kelemahannya ini ternyata Burung Hantu  dapat memutar kepalanya hingga 270 derajat (3/4 putraran) dan ia dapat melihat ke belakang dengan mudah. Sungguh ini sebuah keajaiban hanya untuk seekor burung, sehingga sering sekali Burung Hantu terlihat dapat memutar kepalanya hingga 1 putaran penuh. Dan kenyataan-nya putaran kepala Burung Hantu untuk melihat sekelilingnya lebih cepat dibandingkan dengan gerakan mata manusia untuk melihat sekelilingnya. Dan selain itu putaran kepala burung hantu ini dipercaya berfungsi untuk mengikuti suara gerakan mangsa yang diincarnya.

2. Sayap Burung Hantu
Burung hantu memiliki sayap dengan lebar 21,7 inci (55 sentimeter), merupakan sosok pemburu malam yang sempurna. Dan ia juga memiliki bulu-bulu sayap yang sangat halus untuk membantunya terbang hampir tanpa suara dan dapat menangkap mangsanya dengan mudah. Sayap Burung Hantu ini merupakan wujud dari sistem Aerodinamis yang sempurna, bahkan Burung hantu jenis Peregrine Falcon adalah burung hantu tercepat di dunia ia dapat terbang menukik dengan kecepatan mencapai 350 km/jam dengan sempurna.


3.Pilot Terbang yang hebat
Karena di dukung oleh sayapnya yang hebat serta Sistem Aerodinamis yang sempurna. Satu keajaiban lagi dari Burung Hantu. Yaitu Burung hantu pemakan bangkai tercatat dapat terbang di ketinggian lebih dari 11.000 m, kemampuan terbang ini sama dengan tingginya terbang sebuah pesawat jet buatan manusia yang bentuk dan berat-nya jauh lebih besar daripada seekor Burung Hantu yang kecil dan ringan. Sungguh ini sebuah keajaiban dari penciptaan-NYA.





Sumber :

Share this

0 Comment to "Burung hantu mitos atau fakta?"