Tuesday, 8 September 2015

SEREM !!. Sejarah Film horror di Indonesia

Suzanna

Horor atau ketakutan merupakan emosi paling purba dan sangat kuat mempengaruhi tindakan. yaitu ketika makhluk hidup, tidak hanya manusia, menghadapi sesuatu yang mengancam (Jones, 2005). Hasrat untuk menakuti diri sendiri atau terobsesi pada sesuatu yang menakutkan (seperti yang kita rasakan ketika menonton film horor) terdengar masokis. Dalam disiplin ilmu psikologi, orang yang terobsesi dengan ketakutan, sesuatu yang mengerikan dikategorikan sebagai kelainan mental.

Apakah itu berarti penyuka film horor bisa dikatakan memiliki gejala kelainan mental? Tentu jawabannya tak semudah itu. Mengeksplorasi hal-hal yang membuat kita takut kadang berakhir melegakan. Untuk menghadapi ketakutan itu sendiri saja kita butuh keberanian yang besar. Kita menjadi lebih menerima dan siap untuk ditakuti ketika kita tahu pada akhirnya ketakutan itu tidak membuat kita celaka. Setelah momen menakutkan itu berlalu dan tidak terjadi apa-apa, kita merasa lega dan menertawakan reaksi/ketegangan kita sendiri. Dengan begitu, horror berubah menjadi pengalaman yang seru.

Apa itu Horor?
Sejarah film horor sama tuanya dengan sejarah kelahiran film itu sendiri. Film horor pertama kali di buat berjudul Le Manior Du Diable. yang berarti rumah hantu. Film yang dibuat oleh Georges Melies itu berisi adegan-adegan pantomim, karena masih era film bisu, dengan tujuan lebih pada menghibur dari pada menakuti penonton. Itupun hanya berdurasi 3 menit.



Kelahiran pertama genre horror di Paris tahun 1896 seiringan dengan penerimaan publik atas teori psikoanalisis-nya Freud, teori yang mengeksplorasi hasrat terpendam manusia di alam bawah sadar. Horor, menurut Jones (2005), menjadi saluran langsung kedorongan alam bawah sadar yaitu ketakutan, atas cinta, penderitaan, dan kehilangan.

Ketakutan-ketakutan tersebut seringkali diekspresikan dengan penggambaran monster yang mengerikan, kekejaman, atau pembalasan dendam. Menurut Carrol (1990) horor dapat diartikan sebagai sesuatu yang berusaha untuk membangkitkan ketakutan dan hal yang menjijikkan yang ditujukan langsung kepada sebuah monster yaitu makhluk yang dianggap mengancam. Definisi monster yang dimaksud oleh Carroll adalah makhluk-makhluk yang mengerikan. Sedangkan menurut Freeland, horor diartikan sebagai sesuatu yang berusaha untuk mengeksplorasi segala bentuk kejahatan (Livingston dan Plantinga,2009: 46). Jadi film horor, menurut Vincent Pinell, diartikan sebagai film yang penuh dengan eksploitasi unsur-unsur horor yang bertujuan untuk membangkitkan ketegangan penonton (Rusdiarti, 2009: 2).



sebagai penanda hadirnya anasir jahat atau dimulainya adegan menegangkan misalnya suara hujan, kilatan petir, hembusan angin, atau binatang tertentu seperti kucing hitam dan burung gagak.

Sejarah Film Horor
Lebih jauh dari itu, genre film horror makin berkembang. Meskipun sempat dipandang sebagai film kelas dua, selera rendah, atau murahan, film horror tak pernah absen mewarnai pasang surut perfilman. Sejarah perfilman dunia, baik di Eropa maupun Amerika, pun tak lepas dari dominasi film horror. Di awal perkembangannya, film horror banyak mengadaptasi dari novel dan naskah drama horror seperti Notre-dame de Paris (1831) dengan judul Esmeralda (1906). Keberhasilan plot pantomim di bawah arahan sutradara perempuan, Alice Guy, ini kemudian ditiru di Negara lain seperti The Hunchback (1909) di Amerika, The Love of A Hunchback (1910) di Inggris, dan Notre-Dame de Paris  (1911) di Prancis. Selanjutnya J. Searle Dawley untuk pertama kalinya memanfaatkan popularitas karakter manusia monster Frankenstein (1910) karya Mary Shelley ke dalamfilm. Selain itu karya-karya Edgar Allan Poe (The System of Doctor Tarr and Professor Feather), Oscar Wilde (The Picture of Dorian Gray), dan masih banyak lainnya juga difilmkan.



Negara yang paling terbuka terhadap kemungkinan imajinal dari industri yang mengekplorasi rasa takut adalah Jerman (Jones, 2005:16). Berbeda dengan film horror Amerika yang cenderung menggunakan kecepatan dan laga untuk menarik perhatian penonton, film horror Jerman lebih berani mengeksplorasi visual yang aneh dan luar biasa. Hal ini dipengaruhi oleh gerakan seni ekspresionis yang sedang marak di Jerman. Film horror karya sineas Jerman antara lain Der Student von Prag (1913), Nachte des Grauens (1916), Homunculus (1916), Alraune (1918), Nosferatu eine Symphonie des Grauens (yang diambil dari novel Dracula karya Bram Stoker), dan Cabinet of Dr. Caligari. Aliran ekspresionis yang sangat tampak dalam Cabinet of Dr. Caligari ini memberi kemudian membawa pengaruh besar dalam membentuk film-film horror konvensional produksi Hollywood.

Sejak dekade 1930 dan selanjutnya, industri film berkembang pesat di Amerika yang terkenal dengan golden age of Hollywood. Hal ini bisa dimaklumi karena saat itu amerika menjadi pusat tumbuhnya perekonomian dunia. Apalagi saat itu banyak terjadi eksodus warga Eropa, mulai dari buruh, akademisi, dan seniman ke Amerika yang lebih menjanjikan Sebagai industry, Hollywood kemudian menjadi kiblat perfilman dunia. Mungkin karena kuatnya motif ekonomi, secara tidak langsung membawa perbedaan karakteristik film horror Amerika dan Eropa. Studio film di Eropa lebih kuat pada kesenian gelap dan kedalaman makna, sedangkan studio film Amerika hanya tertarik pada sensasi murahan dan eksploitasi citra (Jones: 2005).



Secara umum, plot horor sebenarnya sederhana, yaitu pertarungan antara sisi baik melawan sisi jahat. Bagaimana usaha dari tokoh protagonist untuk melawan kekuatan jahat, yang berasal dari luar maupun dalam diri manusia. Kekuatan jahat seringkali diwujudkan dalam bentuk makhluk yang menyeramkan, supranatural, non-manusia seperti arwah, mayat hidup, iblis, alien, monster dan lain sebagainya. Selain itu juga karakter antagonis dimunculkan dalam sosok manusia dengan kepribadian jahat seperti psikopat, pembunuh berantai, atau gangguan kejiwaan lainnya. Ada beberapa motif yang digunakan dalam penceritaan film horror antara lain balas dendam, pengungkapan misteri di masa lalu, atau kemenangan dari pihak baik atas pihak buruk. Untuk film horror setan, salah satu indicator keberhasilan film terletak pada tata rias wajah. Semakin seram dan meyakinkan, semakin tinggi tingkat terror yang diciptakan. Untuk mendukung suasana suram dan mencekam, para sineas umumnya memakai tata cahaya remang ( low-key lighting) dan adegan-adegan puncaknya terjadi pada malam hari. Efek suara dan musik juga tak kalah penting dalam membangun ketegangan. Iringan musik yang mencekam digunakan untuk membangun suasana mencekam secara perlahan dari dalam benak penonton. Kemudian teknik suara mengagetkan diiringi kemunculan setan yang spontan seringkali digunakan untuk memberi efek kejut yang mengundang jeritan penonton. Unsur alam juga seringkali digunakan sebagai penanda hadirnya anasir jahat atau dimulainya adegan menegangkan misalnya suara hujan, kilatan petir, hembusan angin, atau binatang tertentu seperti kucing hitam dan burung gagak.


Film Horor di Indonesia
Tren yang sama tampaknya berlaku bagi genre horror dalam perfilman Indonesia. Dari sisi sejarah, film horror termasuk jenis genre yang diproduksi di awal kemunculan teknologi film di Indonesia. Ada beberapa pendapat mengenai film horror yang pertama kali diproduksi di Indonesia. Karl G. Heider dalam Indonesian Cinema: National Culture on Screen mencatat pada tahun 1934 sebuah film berjudul Doea Siloeman Oeler Poeti en Item dibuatoleh The Teng Cun. Film siluman, yang diambil dari kisah klasik Cina, itu dianggap sebagai film horror pertama di Indonesia. Pada tahun 1941 juga ada satu film Indonesia dengan judul Tengkoerak Hidoep, diproduksi oleh The Teng Cun juga, yang mengisahkan perjalanan seorang pendekar ke pulau angker. Mungkin karena pada tahun itu Indonesia belum merdeka, J.B. Kristanto tidak memasukkan kedua film tersebut dalam katalog film Indonesia yang disusunnya. Alih-alih J.B. Kristanto menyebut film Lisa (1971) sebagai film horror pertama Indonesia diikuti oleh Beranak dalam Kubur (1971).

Karakter horror yang sering digunakan

Dalam rekaman sejarah, masa keemasan film horror, dan perfilman Indonesia pada umumnya, dimulai pada dekade 1970. Kemunculan film Lisa dan Beranak dalam Kubur (kedua dirilis tahun 1971), diikuti film-film horror berikutnya yang banyak mengambil materi cerita dari folklore, terutama Jawa, dengan ikonografi hantu yang lokalitasnya sangat khas. Lahirlah karakter-karakter hantu seperti Sundel Bolong, Kuntilanak, Tuyul, Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, dan yang agak lebih modern yaitu Si Manis Jembatan Ancol. Kesuksesan film Beranak dalam Kubur membawa, Suzanna, pemeran hantu dalam film itu menjadi ratu horor Indonesia. Beberapa film horor tak jarang memeroleh 5 besar penonton tertinggi pada tahun rilisnya seperti Nyi Blorong (1982) di peringkat pertama, Sundel Bolong (1981)peringkat 3,Telaga Angker (1986) dan Tuyul (1979) meraih peringkat 4 di tahun masing-masing. Di era 1980an tercatat ada 69 film bergenre horor yang diproduksi. Pada masa itu horor hantu menjadi film favorit penonton, bahkan film Ratu Pantai Selatan (1980) dianugrahi penghargaan piala LPKJ pada FFI 1981 (Parameswari, 2011).

         Jumlah produksi Film Horror Indonesia dari tahun 2001-2013

Perfilman Indonesia sempat meredup dan vakum di era 1990an. Kehadiran televisi swasta, yang juga menayangkan film, membuat film bioskop kehilangan daya tariknya. Tren film yang diproduksi saat itu lebih banyak mengumbar hasrat seksualitas sehingga pangsa penontonnya juga makin sedikit. Kondisi itu terjadi dalam konteks perekonomian Indonesia yang juga sedang menuju puncak krisis moneter tahun 1997-1998.

Kebangkitan film horror di Indonesia dimulai ketika Jose Purnomo dan Rizal Mantovani merilis film Jelangkung (2001). Film Jelangkung tidak saja menjadi awal kebangkitan film horor, tetapi juga perfilman nasional pasca reformasi bersama dengan film remaja Ada Apa Dengan Cinta (2002) dan film anak Petualangan Sherina (2002). Sejak tahun 2003 produksi film horor Indonesia meningkat tiap tahunnya. Berikut ini grafik yang menunjukkan jumlah produksi film horor Indonesia sejak tahun 2001 hingga 2013.


Suzanna dalam film Sundel bolong tahun 1981


Suzanna Petualangan cinta nyi blorong tahun 1986


Tusuk jelangkung


Sumber:http://www.academia.edu/7906150/Film_Horor_Indonesia_Menertawakan_Ketakutan





Share this

0 Comment to "SEREM !!. Sejarah Film horror di Indonesia"