Friday, 18 September 2015

WOW !!!, Stem Cell pengobatan termutahir di masa depan untuk berbagai penyakit



Ada sejumlah penyakit manusia yang tidak bisa disembuhkan. Salah satunya penyakit yang menyerang otak manusia seperti parkinson dan alzheimer. Hingga saat ini, penderitanya meminum obat hanya untuk memperlambat kerusakan pada otak.
Para peneliti di berbagai negara pun mencoba mengembangkan pengobatan stem cells atau sel punca untuk penyakit otak ini. Pembahasan stem cells untuk otak, termasuk di Indonesia terus di lakukan. Salah satunya melalui forum Dr. Boenjamin Setiawan Distinguished Lecture Series 2014.

Acara yang kedua kalinya digelar ini khusus membahas perkembangan terapi sel untuk penyakit parkinson dan alzheimer. Para praktisi dan ahli terapi sel dan neuroscience dari dalam maupun luar negeri berkumpul membahas tema "Regenerating the Brain with Stem Cells." Mereka berbagi pengalaman mengenai penelitian terapi sel dan aplikasinya bagi kehidupan manusia.
"Begitu banyak minat dari peneliti, masyarakat, tentang pengobatan stem cells yang menjanjikan kesembuhan atau perbaikan dari kondisi yang tidak bisa diobati ilmu pengobatan saat ini. Stem cells ini memang ditujukan untuk penyakit yang saat ini belum ada pengobatannya," terang Direktur Stem Cells Indonesia, Sie Djohan.

Sel punca adalah sel-sel baru yang dapat berkembang dalam tubuh. Terapi stem cells dapat memperbaiki jaringan tubuh yang sudah rusak. Di berbagai negara, seperti di Tiongkok, sel punca sudah digunakan sebagai layanan medis untuk mengobati penyakit kronis seperti jantung dan ginjal.
Namun di Indonesia sendiri masih terbatas pada skala penelitian. Saat ini, hanya 11 rumah sakit di Indonesia yang menjadi pusat pengembangan pelayanan medis penelitian dan pendidikan bank jaringan dan sel punca.

sejauh ini terapi sel di Indonesia telah diterapkan pada penderita penyakit jantung dan radang sendi. Di Indonesia sendiri sudah ada 30 orang yang menjalani terapi stem cell untuk jantung maupun sendi lutut. Hasil medisnya pun membaik.
"Contohnya, di lutut yang rusak tulang rawan. Jadi stem cell akan menumbuhkan kembali tulang rawan.  Lutut kembali bisa digerakkan, bisa berjalan. Begitu juga dengan jantung," terang Djohan.

Menurut Djohan, minat terhadap terapi stem cell di Indonesia cukup tinggi meskipun harus merogoh kocek yang tak sedikit yakni mencapai ratusan juta rupiah. Berdasarkan penelitian selama ini, stem cells aman bagi tubuh. Bahkan, efek samping stem cells justru bisa berbuah manis untuk masalah penuaan atau memberikan efek antiaging.
Risiko stem cells juga semakin kecil jika menggunakan sel dalam tubuh manusia itu sendiri. Sebab, tidak ada penolakan oleh tubuh terhadap sel baru tersebut. Berbeda untuk sel dari orang lain yang bisa berkembang menjadi kanker. Untuk itu para dokter akan sangat berhati-hati dan memastikan sel tidak akan ditolak oleh tubuh.

Sebenarnya apa stem cell itu?, berikut penjelasnya yang kami kutip dari wikipedia Indonesia:

Sel Punca
Sel puncasel induksel batang (bahasa Inggrisstem cell) merupakan sel yang belum berdiferensiasi dan mempunyai potensi yang sangat tinggi untuk berkembang menjadi banyak jenis sel yang berbeda di dalam tubuh. Sel punca juga berfungsi sebagai sistem perbaikan untuk mengganti sel-sel tubuh yang telah rusak demi kelangsungan hidup organisme. Saat sel punca terbelah, sel yang baru mempunyai potensi untuk tetap menjadi sel punca atau menjadi sel dari jenis lain dengan fungsi yang lebih khusus, misalnya sel ototsel darah merah atau sel otak.
Saat ini Indonesia telah memiliki 2 lembaga yang dapat mengolah sel punca dengan harga hanya sepersepuluh sel punca impor, padahal dibutuhkan sampai 3 serum sel punca untuk penyembuhan suatu penyakit, tergantung tingkat kondisi penyakitnya. Kedua lembaga tersebut telah dapat mencukupi kebutuhan nasional dan akan terus meningkatkan produksinya dengan menambah peralatan laboratorium baru. Sel punca nasional telah dapat diterapkan pada 20 jenis penyakit, tetapi baru 5 jenis sel punca yang telah dapat dikembangkan secara massal

Sifat
Sel punca memiliki dua sifat penting yang sangat berbeda dengan sel yang lain:
  • Sel punca belum merupakan sel dengan spesialisasi fungsi tetapi dapat memperbaharui diri dengan pembelahan sel bahkan setelah tidak aktif dalam waktu yang panjang.
  • Dalam situasi tertentu, sel punca dapat diinduksi untuk menjadi sel dengan fungsi tertentu seperti sel jaringan maupun sel organ yang mempunyai tugas tersendiri. Pada sumsum tulang dan darah tali pusar (bahasa Inggrisumbilical cord blood), sel punca secara teratur membelah dan memperbaiki jaringan yang rusak, meski demikian pada organ lain seperti pankreas atau hati, pembelahan hanya terjadi dalam kondisi tertentu.
Peneliti medis meyakini bahwa penelitian sel punca berpotensi untuk mengubah keadaan penyakit manusia dengan cara digunakan memperbaiki jaringan atau organ tubuh tertentu. Namun, hal ini tampaknya belum dapat benar-benar diwujudkan dewasa ini.
Penelitian sel punca dapat dikatakan dimulai pada tahun 1960-an setelah dilakukannya penelitian oleh ilmuwan KanadaErnest A. McCulloch dan James E. Till

Berdasarkan potensi

  • Sel induk ber-totipotensi (toti=total) adalah sel induk yang memiliki potensi untuk berdiferensiasi menjadi semua jenis sel, yaitu sel ekstraembrionik, sel somatik, dan sel seksual. Jenis sel ini dapat bertumbuh menjadi organisme baru bila diberikan dukungan maternal yang memadai. Sel induk bertotipotensi diperoleh dari sel induk embrio, hasil pembuahan sel telur oleh sel sperma.
  • Sel induk ber-pluripotensi (pluri=jamak) adalah sel-sel yang dapat berdiferensiasi menjadi semua jenis sel dalam tubuh, namun tidak dapat membentuk suatu organisme baru.
  • Sel induk ber-multipotensi adalah sel-sel yang dapat berdiferensiasi menjadi beberapa jenis sel dewasa.
  • Sel induk ber-unipotensi (uni=tunggal) adalah sel induk yang hanya dapat menghasilkan satu jenis sel tertentu, tetapi memiliki kemampuan memperbarui diri yang tidak dimiliki oleh sel yang bukan sel induk.
Berdasarkan asalnya
Sel punca embrio (embryonic stem cells)
Sel induk ini diambil dari embrio pada fase blastosit (5-7 hari setelah pembuahan).  Massa sel bagian dalam mengelompok dan mengandung sel-sel induk embrionik. Sel-sel diisolasi dari massa sel bagian dalam dan dikultur secara in vitroSel induk embrional dapat diarahkan menjadi semua jenis sel yang dijumpai pada organisme dewasa, seperti sel-sel darah, sel-sel otot, sel-sel hati, sel-sel ginjal, dan sel-sel lainnya.
Sel germinal/benih embrionik (embryonic germ cells)
Sel germinal/benih (seperti sprema/ovum) embrionik induk/primordial (primordial germ cells) dan prekursor sel germinal diploid ada sesaat pada embrio sebelum mereka terasosiasi dengan sel somatik gond dan kemudian menjadi sel germinal. Sel germinal embrionik manusia/human embryonic germ cells (hEGCs) termasuk sel punca yang berasal dari sel germinal primordial dari janin berumur 5-9 minggu. Sel punca jenis ini memilki sifat pluripotensi
Sel punca fetal
Sel punca fetal adalah sel primitif yang dapat ditemukan pada organ-organ fetus (janin) seperti sel punca hematopoietik fetal dan progenitor kelenjar pankreas. Sel punca neural fetal yang ditemukan pada otak janin menunjukkan kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel neuron dan sel glial (sel-sel pendukung pada sistem saraf pusat). Darah, plasenta, dan tali pusat janin kaya akan sel punca hematopoietik fetal
Sel punca dewasa (adult stem cells)
Sel punca dewasa mempunyai dua karakteristik. Karakteristik pertama adalah sel-sel tersebut dapat berproliferasi untuk periode yang panjang untuk memperbarui diri. Karakteristik kedua, sel-sel tersebut dapat berdiferensiasi untuk menghasilkan sel-sel khusus yang mempunyai karakteristik morfologi dan fungsi yang spesial
Jenis-jenis transplantasi sel punca
Menurut sumbernya transplantasi sel induk dapat dibagi menjadi:
Transplantasi sel punca dari sumsum tulang (bone marrow transplantation)
Sumsum tulang adalah jaringan spons yang terdapat dalam tulang-tulang besar seperti tulang pinggang, tulang dada, tulang punggung, dan tulang rusuk.
Sumsum tulang merupakan sumber yang kaya akan sel induk hematopoietik. Sejak dilakukan pertama kali kira-kira 30 tahun yang lalu, transplantasi sumsum tulang digunakan sebagai bagian dari pengobatan leukemialimfoma jenis tertentu, dan anemia aplastik. Karena teknik dan angka keberhasilannya semakin meningkat, maka pemakaian transplantasi sumsum tulang sekarang ini semakin meluas.
Pada transplantasi ini prosedur yang dilakukan cukup sederhana, yaitu biasanya dalam keadaan teranestesi total. Sumsum tulang (sekitar 600 cc) diambil dari tulang panggul donor dengan bantuan sebuah jarum suntik khusus, kemudian sumsum tulang itu disuntikkan ke dalam vena resipien. Sumsum tulang donor berpindah dan menyatu di dalam tulang resipien dan sel-selnya mulai berproliferasi.
Pada akhirnya, jika semua berjalan lancar, seluruh sumsum tulang resipien akan tergantikan dengan sumsum tulang yang baru. Namun, prosedur transplantasi sumsum tulang memiliki kelemahan karena sel darah putih resipien telah dihancurkan oleh terapi radiasi dan kemoterapi. Sumsum tulang yang baru memerlukan waktu sekitar 2-3 minggu untuk menghasilkan sejumlah sel darah putih yang diperlukan guna melindungi resipien terhadap infeksi. Transplantasi sumsum tulang memerlukan kecocokan HLA 6/6 atau paling tidak 5/6.
Risiko lainnya adalah timbulnya penyakit GvHD, di mana sumsum tulang yang baru menghasilkan sel-sel aktif yang secara imunologi menyerang sel-sel resipien. Selain itu, risiko kontaminasi virus lebih tinggi dan prosedur pencarian donor yang memakan waktu lama.
Transplantasi sel punca darah tepi (peripheral blood stem cell transplantation)
Seperti halnya sumsum tulang, peredaran darah tepi merupakan sumber sel induk walaupun jumlah sel induk yang dikandung tidak sebanyak pada sumsum tulang. Untuk mendapatkan jumlah sel induk yang jumlahnya mencukupi untuk suatu transplantasi, biasanya pada donor diberikan granulocyte-colony stimulating factor (G-CSF) untuk menstimulasi sel induk hematopoietik bergerak dari sumsum tulang ke peredaran darah.
Transplantasi ini dilakukan dengan proses yang disebut aferesis. Jika resipien membutuhkan sel induk hematopoietik, pada proses ini darah lengkap diambil dari donor dan sebuah mesin akan memisahkan darah menjadi komponen-komponennya, secara selektif memisahkan sel induk dan mengembalikan sisa darah ke donor.
Transplantasi sel induk darah tepi pertama kali berhasil dilakukan pada tahun 1986. Keuntungan transplantasi sel induk darah tepi adalah lebih mudah didapat. Selain itu, pengambilan sel induk darah tepi tidak menyakitkan dan hanya perlu sekitar 100 cc. Keuntungan lain, sel induk darah tepi lebih mudah tumbuh. Namun, sel induk darah tepi lebih rentan, tidak setahan sumsum tulang. Sumsum tulang juga lebih lengkap, selain mengandung sel induk juga ada jaringan penunjang untuk pertumbuhan sel. Karena itu, transplantasi sel induk darah tepi tetap perlu dicampur dengan sumsum tulang.
Transplantasi sel induk darah tali pusat
Pada tahun 1970-an, para peneliti menemukan bahwa darah plasenta manusia mengandung sel induk yang sama dengan sel induk yang ditemukan dalam sumsum tulang. Karena sel induk dari sumsum tulang telah berhasil mengobati pasien-pasien dengan penyakit-penyakit kelainan darah yang mengancam jiwa seperti leukemia dan gangguan-gangguan sistem kekebalan tubuh, maka para peneliti percaya bahwa mereka juga dapat menggunakan sel induk dari darah tali pusat untuk menyelamatkan jiwa pasien mereka.
Darah tali pusat mengandung sejumlah sel induk yang bermakna dan memiliki keunggulan di atas transplantasi sel induk dari sumsum tulang atau dari darah tepi bagi pasien-pasien tertentu. Transplantasi sel induk dari darah tali pusat telah mengubah bahan sisa dari proses kelahiran menjadi sebuah sumber yang dapat menyelamatkan jiwa.
Transplantasi sel induk darah tali pusat pertama kali dilakukan di Perancis pada penderita anemia Fanconi tahun 1988. Pada tahun 1991, darah tali pusat ditransplantasikan pada penderita Chronic Myelogenous Leukemia. Kedua transplantasi ini berhasil dengan baik. Sampai saat ini telah dilakukan kira-kira 3.000 transplantasi darah tali pusat.
Berikut adalah tulisan Dahlan iskan salah satu menteri di era kabinet SBY yang pernah merasakan terapi stem cell yang kami kutip dari jpnn.com :

SAYA harus percaya pada kemampuan anak muda ini,” pikir saya dalam hati.
Hari itu, hampir dua tahun lalu, saya membaca edisi khusus Jawa Pos yang amat tebal. Yang menampilkan prestasi puluhan anak muda Indonesia yang menakjubkan. Salah satunya wanita muda ini: Dr dr Purwati SpPD FINASIM.
Saat itu sebenarnya saya sudah mendaftarkan diri ikut ke Jerman dan Swiss. Untuk menjalani apa yang lagi mode di kalangan tertentu belakangan ini: stem cell. Lalu saya batalkan. Saya pun melakukan diskusi lanjutan: apakah benar sudah ada dokter kita yang ahli stem cell. Ternyata benar. Maka saya harus percaya pada kemampuan dokter muda dari RSUD dr Soetomo Surabaya itu.
Saya memang gelisah melihat betapa banyak orang kita yang ke Jerman atau Tiongkok untuk stem cell. Padahal yang di Jerman itu tidak murah: Rp 2,5 miliar. Belum termasuk tiket pesawat dan hotelnya. Itulah harga yang harus dibayar orang-orang yang takut tua. Atau takut terlihat tua.
Agen-agen stem cell kini banyak beroperasi di Jakarta. Ada yang mencari pasien stem cell beneran, ada yang stem cell-stem cell-an. Banyak orang bingung yang mana yang benar. Padahal begitu besar risiko. Tapi siapa peduli?
Menjadi tua rupanya begitu menakutkan. Banyak yang asal tabrak.
Waktu memutuskan untuk ikut mendaftar ke Jerman, bukan karena saya takut tua. Tapi ingin menjalani uji coba. Bisa jugakah stem cell membuat saya tidak lagi tergantung obat seumur hidup?
Sebenarnya saya pun tidak keberatan minum obat seumur hidup. Toh kapsulnya sangat kecil. Sekecil butiran beras. Dosisnya pun hanya 0,5 mg, dosis terkecil. Efek sampingnya pasti juga kecil. Inilah obat yang harus saya minum untuk mengurangi jumlah T cell (sel T) saya.
Karena itu, kalau saya berhenti minum obat, jumlah T cell saya normal dan punya kemampuan menyerang hati baru saya. Lantaran minum obat itu, menurut hasil tes terakhir darah saya, jumlah T cell saya 460. T cell orang normal 600-an.
Dari diskusi dengan Dr dr Purwati saya mengambil kesimpulan bahwa dia menguasai ilmu itu. Go! Lakukan stem cell itu. Pada saya. Tidak usah ke Jerman. Syukur-syukur ada juga efek bisa membuat saya terlihat lebih muda.
Tentu ada ngeri-ngeri-sedapnya. Bahwa, misalnya, tidak berhasil pun tidak masalah. Yang penting jangan berbahaya. “Yang aman ya, Dok. Hati-hati,” pesan saya sebelum proses pengambilan darah dari sumsum tulang pinggul dilakukan.
Darah itulah yang diproses untuk diambil cell-cell mudanya. Lalu dibiakkan di dalam laboratoriumnya. Setelah mencapai 200.000.000 cell lantas dimasukkan ke dalam tubuh saya. Melalui saluran darah di lengan. Angka 200 juta itu disesuaikan dengan berat badan saya yang 73 kg.
“Ramuan” untuk mengantarkan cell muda itulah yang ditemukan Dr Purwati. Sehingga ratusan juta cell muda itu bisa menyatu dengan darah yang sedang beredar dengan aman. “Saya lagi mengajukan paten untuk temuan saya itu,” ujar Dr Purwati.
Jutaan cell muda itulah yang bertugas menggantikan cell saya yang sudah menua. Juga mengganti cell yang rusak. Termasuk mengganti cell yang sudah dihinggapi penyakit seperti kanker.
Bulan lalu saya sudah menjalani stem cell yang ketiga kalinya. Memang kurang sempurna kalau hanya satu kali stem cell. Baiknya tiga kali, berselang tiga bulan. Yang di Jerman pun demikian. Satu seri, istilahnya. Rp 2,5 miliar. Yang di Surabaya tentu jauh lebih murah.
Saya pun sekarang merasa sangat fit. Entahlah, terlihat lebih muda atau tidak. (***)


Sumber :

Share this

0 Comment to "WOW !!!, Stem Cell pengobatan termutahir di masa depan untuk berbagai penyakit"