Monday, 25 April 2016

Leicester City : "Dongeng yang menjadi kenyataan"

Apa yang beda dengan liga Inggris 2016?, tidak seperti liga-liga yang lain seperit liga Spanyol, Italia maupun Bundes liga Jerman dimana tim-tim besar masih begitu dominannya mempuncaki klasemen 4 besar dan memiliki peluang besar menjadi juara. Dimusim 2016 ini kita akan mendapatkan hal yang beda dan lain dari yang lain di liga Inggris dimana Leicester City yang merupakan tim yang tidak diunggulkan sama sekali namun bisa membuat kejutan dan bisa mempuncaki klasemen bahkan banyak orang memprediksi kalau Leicester City bisa menjadi juara liga Inggris musim ini, dan gambaran "dongeng yang menjadi kenyataan" ini lah yang kerap di ibaratkan atas pencapaian Leicester City sampai saat ini. Lantas kehebatan apa yang membuat Leicester City menjadi sangat mengagumkan di musim 2016 ini?  berikut misterianeh.com akan mengulas semua hal tentang Leicester City.
Leicester City F.C. adalah sebuah tim sepak bola Inggris berbasis di Leicester. Leicester Dikenal juga dengan sebutan The Foxes. Klub ini memainkan pertandingan kandangnya di Stadion King Power yang berkapsitas 32.000 penonton.
Seragam mereka berwarna biru dan celana putih. Klub ini kini berlaga di Liga Utama Inggris. Tim ini didirikan tahun 1884, dengan nama klub Leicester Fosse, yang kemudian pada tahun 1919 diganti dengan Leicester City.
Leicester berpindah ke Filber Street pada tahun 1891 dan sempat bermain selama 111 tahun, Pada Tahun 2013, Stadion Walker diubah menjadi Stadion King Power setelah pergantian kepemilikan. Leicester City terpilih di ajang Liga Inggris pada tahun 1894, dan di akhir musim berhasil menduduki posisi runner up pada divisi satu (1928-29).
Kiprah klub sepak bola Leicester City di Premier League pada musim ini bagai dongeng fiksi yang indah. Andai bisa mengakhiri musim sebagai juara, The Foxes akan menjadi salah satu pencapaian terbaik dalam sejarah olahraga apa pun sepanjang masa. Jika itu terjadi, bukan hanya kegembiraan yang bakal dirasakan oleh para pendukungnya, seluruh warga Kota Leicester akan merasakan dampaknya.
Leicester menunjukkan bahwa kemustahilan ternyata bisa dilawan. Nyaris terdegradasi pada musim lalu, The Foxes kini memimpin klasemen sementara Premier League. Padahal, dari segi apa pun, kekuatan tim didikan Claudio Ranieri ini tidak sebanding dengan Manchester United, Arsenal, Chelsea, hingga Manchester City.
The Foxes berbasis di sebuah kota kecil bernama Leicester di kawasan East Midlands di Inggris. Kota ini hanya seluas 73 km2 dan, berdasar sensus pada 2011, hanya dihuni oleh 330 ribu jiwa.
Akan tetapi, Kota Leicester merupakan sebuah tempat unik di Inggris. Kota ini merupakan kota besar selain London yang memiliki komposisi etnis warga paling beragam. Di sini, tidak seperti kota-kota lain di Inggris, kulit putih bukanlah yang dominan. Jumlahnya hanya separuh dari penduduk kota. Sisanya merupakan warga dari berbagai ras lain.
 Para imigran dan keturunananya mudah ditemui di Leicester. Dilaporkan olehFinancial Times, kota ini dibanjiri pendapatang sekitar tahun 1950. Orang-orang dari Polandia, Ukrainia, Pakistan, Tiongkok, hingga India berdatangan ke sana. Mereka disusul oleh gelombang orang-orang dari Benua Afrika pada tahun 1960-an. Hingga kini, mereka menetap dan beranak pinak di Leicester.
Kalau mampu menjuarai Premier League musim ini The Foxes bisa membawa pesan keberagaman yang ampuh. Hal itu bisa menjadi senjata untuk menghantam isu rasialisme dan gerakan ekstrem kanan yang mulai muncul lagi di Eropa beberapa tahun terakhir.      Mengapa bisa seperti itu? Selain Arsenal, The Foxes disebut oleh pakar sepak bola asal Belanda, Simon Kuper, sebagai klub Inggris dengan basis etnis pendukung yang paling beragam. Para fans The Foxes bukan hanya etnis kulit putih. Warga keturunan Asia Selatan maupun Asia Timur juga mendukung Leicester.
 Akan tetapi, jika dibandingkan dengan porsi etnis nonkulit putih yang ada di kota, jumlah pendukung The Foxes dari ras lain tetap terbilang sedikit. Hal itu masuk akal karena sejatinya akar sepak bola di Inggris tidak bisa dilepaskan dari etnis kulit putih.
Di Inggris, sepak bola merupakan olahraga warga kulit putih kelas pekerja. Mereka yang membesarkan dan memainkan si kulit bulat. Etnis lain sangat sulit untuk “masuk” ke sana, entah sekadar hanya menjadi penggemar ataupun malah menjadi pemain.
 Seorang pendukung The Foxes yang merupakan keturunan imigran asal Pakistan, Riaz Khan, mengisahkan betapa sulit masuk ke lingkaran sepak bola di kotanya. Dia kerap menerima pelecehan mulai dari sesama fans The Foxes sampai oleh para suporter klub lain.
 Padahal, Khan mengaku bersikap “total” seperti para hooligans pada masa kegelapan sepak bola Inggris pada 1980-an. Dia selalu datang menonton Leicester ke mana pun berlaga. Bahkan, perkelahian antarsuporter sangat sering dilakoninya. Namun, tetap saja, berat baginya untuk diterima.
“Pada awalnya sangat sulit,” kata Khan kepada Financial Times. “Orang-orang tidak mau berbicara dengan saya. Mereka mungkin berpikir, ‘Apa yang dilakukan orang Pakistan ini di sini?’,” kenang Khan.
Meski sekarang sudah menjadi bagian dari pendukung The Foxes, Khan mengakui tidak banyak orang dari ras nonkulit putih di Kota Leicester seperti dirinya. Namun, belakangan, seiring kesuksesan Jamie Vardy dkk., situasi mulai berubah. Antusiasme warga kota terhadap sepak bola meningkat pesat.
Kendai demikian, jangan bayangkan seisi kota bakal “gila” sepak bola seperti di Kota Newcastle.  Financial Times melaporkan saat ini tetap tidak banyak orang yang mendadak mengenakan kostum The Foxes di jalanan Kota Leicester. Namun, sekarang, warga kota keturunan imigran yang datang ke Stadion King Power menyaksikan Vardy cs berlaga kian bertambah.
 Khan merasakan perubahan tersebut. Dia mengaku kini sering melihat orang keturunan Asia seperti dirinya datang ke stadion membawa anaknya menonton pertandingan. Hal ini dipandang positif sebagai cara agar akulturasi dan pembauran antarwarga kota bisa semakin kuat.
 Isu antiimigran dan rasialisme memang meningkat di Eropa akhir-akhir ini seiring terjadinya kasus terorisme di sana. Gerakan ekstrem kanan dan kebencian terhadap warga pendatang mulai muncul.
Seperti kawasan Eropa lain, Inggris tak bisa menghindarinya. Namun, mereka memiliki “sarana” untuk “menghantam” isu miring tersebut. Di negerinya terdapat sebuah kota dengan keberagaman etnis tinggi yang memiliki sebuah klub sepak bola kecil dengan prestasi luar biasa. Klub itu bukan hanya didukung oleh warga dari berbagai ras, namun juga diperkuat oleh bintang dari etnis nonkulit putih.
Mereka adalah Leicester City yang mengandalkan pemain dari berbagai etnis. Di sana ada gelandang asal Aljazair, Riyad Mahrez, pemain kulit hitam asal Prancis, N'Golo Kanté, maupun pemain dari Jepang Shinji Okazaki. The Foxes bahkan dikapteni oleh pemain asal Jamaika, Wes Morgan.
Kalau bisa juara Premier League, sebuah pesan penting akan dibawa oleh Leicester. Mereka menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah halangan untuk menuai sukses. Mengapa kita tidak menirunya?

Lima alasan mengapa mereka akan bisa memenangkan Liga

Redaktur olahraga BBC Radio Leicester Jason Bourne mengungkapkan sejumlah alasan mengapa Leicester bisa memenangi liga:
  1. Mental pemenang. Tim ini hanya kalah sebanyak dua kali dalam Liga Premier musim ini. Mereka mengalahkan sejumlah tim terbaik dengan relatif mudah.
  2. Gaya bermain. Mereka memainkan teknik sepakbola yang sangat menarik dengan keterampilan serta kecerdikan. Sangat menyenangkan untuk ditonton - dan ini merupakan permainan terbaik Leicester City yang pernah saya lihat.
  3. Claudio Ranieri. Orang ini tidak banyak melakukan perubahan sejak mengambil alih posisi dari Nigel Pearson, tapi sekarang Anda melihat Leicester sebagai tim bentukannya dengan stempelnya. Banyak pakar meramalkan dia akan menjadi manajer pertama yang akan dipecat, tapi dia membuktikan kelirunya pandangan itu.
  4. Para fans. Mereka luar biasa di Stadion King Power. Teriakan mereka menyuntikkan energi perkasa untuk tim. Hal ini terdengar klise untuk mengatakan bahwa mereka adalah pemain nomer 12 tapi itu benar. Jika Anda berjalan keluar dari lorong itu menuju lapangan, Anda akan merasa terdongkrak -untuk pertandingan apa pun.
  5. Mereka cukup baik. Intinya adalah bahwa Leicester City memang tim yang bagus. Mereka telah menunjukkan mereka memiliki semangat dan energi untuk mengatasi tim lain tapi mereka juga menunjukkan diri bahwa para pemain mereka pun sangat bagus. Semua orang dari pertahanan ke lini tengah dan lini depan. Ini adalah tim yang baik dengan pemain bagus yang mampu mengukir sejarah di musim ini. Ok'N


Share this

0 Comment to "Leicester City : "Dongeng yang menjadi kenyataan""