Friday, 6 May 2016

HARUS DI LESTARIKAN. 10 permainan tradisional ini hampir punah


Bermain merupakan dunia yang menyenangkan. Bermain identik dengan anak-anak, bila kita menggabungkan antara bermain dan anak-anak maka bermain lah yang langsung tersirat dipikiran kita. Beraneka macam pilihan permainan bagi anak-anak mulai dari mandi bola, bermain air diwahana permainan air dan juga beraneka game permainan dan strategi yang bisa dimainkan lewat gadget oleh anak-anak di jaman sekarang, namun bukan itu yang akan kita bahas sobat misterianeh.com, nah permainan yang dibahas adalah permainan tradisional, yah permainan tradisional adalah permainan-permainan yang sangat populer dan sering dimainkan oleh anak-anak jaman dulu, bukan hanya populer tetapi permainan ini memiliki nilai-nilai yang sangat baik untuk perkembangan anak. Kerjasama, kreatif, inovatif dan mendidik itulah nilai-nilai yang terkandung dalam permainan tradisional masyarakat Indonesia. Lalu permainan apa saja yang dahulu sangat populer namun sekarang sudah tidak lagi. Berikut 10 permainan tradisional yang sudah hampir punah :

1. GASING
Permainan ini sudah dikenal dari jaman dahulu. Bahkan sejumlah website arkeolog mengatakan bahwa gasing merupakan permainan tertua yang masih tersisa hingga saat ini. Untuk dapat bermain gasing, dibutuhkan gasing yang terbuat dari kayu yang dibentuk bulat dengan salah satu ujungnya dibuat tumpul dan ujung yang satunya dibentuk agak meruncing dan menggunakan tali untuk memutarnya, biasanya talinya terbuat dari kulit kayu atau kain bekas yang dililit sehingga membentuk seperti tali tambang.

Di beberapa daerah tali ini dibentuk semakin ke ujung semakin mengecil. Tali dililitkan dari ujung bawah gasing sampai hampir keseluruan gasing terlilit. Kemudian tarik tali sambil melemparkan gasing ke tanah. Akan terlihat gasing yang berputar sesuai porosnya. Biasanya para pemain ini memainkan gasingnya secara bersama-sama dan siapa yang paling tahan lama maka ia akan menjadi pemenang, kemudian dilanjutkan dengan di adu satu per satu. Pada jaman dulu permainan ini sangat menghibur dan tidak diperlukan biaya yang mahal, karena hanya terbuat dari kayu cukup mencari kayu yang kuat dan tidak mudah pecah maka gasing akan awet dan bentuknya biasanya menyesuaikan dengan daya kreatifitas masing-masing pembuatnya. Semakin detil sang pembuat maka gasing akan terlihat semakin bagus dan semakin menarik orang untuk melihatnya.

2. EGRANG
Egrang biasanya terbuat dari bambu, tingginya tidak ada ketentuannya tapi biasanya berkisar antara 1,5 sampai 2 meter namun juga bisa lebih. Sekitar 30-50 CM dari ujung bawah dibuat tapakan untuk kaki setelah itu kita naik dan berjalan menggunakan egrang itu. Permainan yang satu ini memang terbilang sebagai permainan yang cukup lawas. Dari material penyusunnya yang berbahan dasar bambu saja sudah cukup sulit untuk didapatkan pada jaman sekarang ini. Permainan ini melatih keseimbangan dan ketangkasan dalam menjalankan egrang itu sendiri.

Permainan ini sudah tidak asing lagi, meskipun di berbagai daerah di kenal dengan nama yang berbeda beda. saat ini juga sudah mulai sulit di temukan, baik di desa maupun di kota, tetapi saat permainan ini mulai dikombinasikan dengan berbagai hal sehingga dapat berdampingan dengan dunia yang di katakan modern ini.
Permainan Egrang cukup terkenal di nusantara ini misalnya di daerah Sulawesi Tengah salah satu provinsi yang ada di Indonesia. Di sana ada satu suku bangsa yang bernama Kaili. Di kalangan mereka ada satu jenis permainan yang disebut sebagai tilako (nama lain dari permainan egrang), yaitu sebuah permainan berjalan menggunakan alat yang terbuat dari bambu dan pelepah sagu atau tempurung kelapa. Tilako disamping nama sebuah permainan juga sekaligus nama alat yang digunakan untuk permainan tersebut. Tilako itu sendiri merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “ti” dan “lako”. “Ti” adalah kata awalan yang menunjukkan kata kerja dan “lako” secara harafiah berarti “langkah/jalan”. Dalam permainan ini “tilako” adalah alat yang dipakai untuk melangkah atau berjalan. Permainan ini dalam dialek Rai disebut kalempa yang juga merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “ka” dan “lempa”. “Ka” adalah kata awalan yarng menunjukkan kata kerja dan “lempa” berarti “langkah”.Permainan ini ada juga yang mengenal dengan nama jejangkungan. Cara memainkan permainan ini sebenarnya beragam ini hanyalah salah satu dari banyak cara.

3. KASTI
Meski permainan kasti masih masuk dalam salah satu cabang olahraga, namun keseruan yang didapatkan membuat setiap orang merasa ketagihan untuk memainkannya. Kasti juga memerlukan peserta yang cukup banyak jadi tak heran jika anak satu desa datang hanya untuk memainkannya. 

Kasti atau biasa dikenal juga Gebokan merupakan sejenis olahraga bola. Permainan yang dilakukan 2 kelompok ini menggunakan bola tenis sebagai alat untuk menembak lawan dan tumpukan batu untuk disusun. Siapapun yang berhasil menumpuk batu tersebut dengan cepat tanpa terkena pukulan bola adalah kelompok yang memenangkan permainan. Pada awal permainan, ditentukan dahulu kelompok mana yang akan menjadi penjaga awal dan kelompok yang dikejar dengan suit. Kelompok yang menjadi penjaga harus segera menangkap bola secepatnya setelah tumpukan batu roboh oleh kelompok yang dikejar. Apabila bola berhasil menyentuh lawan, maka kelompok yang anggotanya tersentuh bola menjadi penjaga tumpukan batu. Kerjasama antar anggota kelompok sangat dibutuhkan seperti halnya olahraga sofbol atau bisbol.
Permainan kasti juga banyak dimainkan anak anak sekolah dasar: pemain dibagi dua regu, salah satu mendapat giliran jaga dan satu regu lagi mendapat giliran untuk memukul. Disediakan beberapa pos yang ditandai dengan tiang dimana pemain serang (yang mendapat giliran pukul) tak boleh di"gebok" atau dilempar dengan bola. Pemain serang bergiliran memukul bola yang diumpan oleh salah seorang pemain jaga. Pemain jaga berjaga di lapangan untuk mencoba menangkap pukulan pemain serang. Ketika bola terpukul pemain serang berlari ke pos berikut atau "pulang" ke "rumah" yang dibatasi dengan sebuah garis. Kalau pemain yang sedang lari menuju pos atau pulang dapat di "gebok" dia dinyatakan mati dan kedua regu berganti - regu serang jadi regu jaga dan sebaliknya. Pemain serang yang berhasil pulang mendapat satu angka. Regu yang mendapat angka terbanyak ketika pertandingan berakhir dinyatakan menang. Permainan ini memang menggunakan gerak dasar berlari, memukul bola dengan sebuah tongkat, menangkap dan melempar. Terdiri dari 2 base dengan jarak minimal 20 meter.

4. CONGKLAK
Permainan ini identik untuk bagi anak-anak perempuan pada masa itu karena tidak membutuhkan kemampuan fisik secara menyeluruh. Congklak lebih cenderung mengatur strategi dan digunakan untuk mengisi waktu luang anak-anak.

Congklak merupakan suatu permainan tradisional yang dikenal dengan berbagai macam nama di seluruh Indonesia. Biasanya dalam permainan sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada kadangkala digunakan juga biji-bijian dari tumbuh-tumbuhan.

Permainan congklak dilakukan oleh dua orang. Dalam permainan mereka menggunakan papan yang dinamakan papan congklak dan 98 buah biji yang dinamakan biji congklak atau buah congklak. Pada masa dahulu papan congklak terbuat dari kayu dan bahkan bisa menggunakan tanah yang dilubangi menyerupai bentuk papan congklak, sedangkan bijinya terbuat dari cangkang kerang, biji-bijian, batu-batuan, kelereng atau plastik. Pada papan congklak terdapat 16 buah lobang yang terdiri atas 14 lobang kecil yang saling berhadapan dan 2 lobang besar di kedua sisinya. Setiap 7 lobang kecil di sisi pemain dan lobang besar di sisi kananya dianggap sebagai milik sang pemain.

Pada awal permainan setiap lobang kecil diisi dengan tujuh buah biji. Dua orang pemain yang berhadapan, salah seorang yang memulai dapat memilih lobang yang akan diambil dan meletakkan satu ke lobang di sebelah kanannya dan seterusnya. Bila biji habis di lobang kecil yang berisi biji lainnya, ia dapat mengambil biji-biji tersebut dan melanjutkan mengisi, bisa habis di lobang besar miliknya maka ia dapat melanjutkan dengan memilih lobang kecil di sisinya. bila habis di lubang kecil di sisinya maka ia berhenti dan mengambil seluruh biji di sisi yang berhadapan. Tetapi bila berhenti di lobang kosong di sisi lawan maka ia berhenti dan tidak mendapatkan apa-apa.

Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada biji lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain). Pemenangnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

5. GOBAK SODOR
Permainan ini adalah salat satu permainan yang sangat populer dikalangan masyarakat Indonesia pada jaman dahulu. Galah Asin atau di daerah lain disebut Galasin atau Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3-5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.

Untuk melakukan permainan ini, biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segi empat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

6. SOROTAN GAPLOK
Beragamnya budaya dan permainan asli nusantara memang tidak ada duanya dan merupakan suatu berkah yang harus kita lestarikan. Selain jumlahnya yang sangat banyak, permainan asli nusantara juga dikenal memiliki unsur-unsur edukasi yang sangat positif. Salah satu permainan itu adalah Sorodot Gaplok.

Permainan yang menggunakan batu sebagai alat permainannya ini adalah permainan tradisional khas Jawa Barat, dimana biasanya dimainkan oleh anak laki-laki saja. Dalam bahasa sunda Sorodot Gaplok berasal dari dua kata, Sorodot yang berarti ‘meluncur’ dan Gaplok yang berarti ‘tamparan’. Jadi Sorodot Gaplok adalah permainan meluncurkan batu ke batu lainnya yang nantinya bisa menimbulkan suara ‘plok’ seperti suara tamparan. Permainan ini bisa dimainkan oleh dua orang atau lebih, yang penting jumlahnya genap. Karena kalau lebih dari dua orang biasanya akan dibagi menjadi dua tim yang jumlah anggotanya sama. Setelah dibagi dua tim, kita harus menentukan tim mana yang main duluan dan tim mana yang kebagian jaga, biasanya dengan cara suit.

Setelah itu kita tinggal membuat garis di lantai atau tanah sebagai tempat meletakkan batu secara berdiri. Kemudian buat garis lagi untuk tempat lemparan batu bagi tim yang bermain. Jarak kedua garis itu biasanya sekitar 3-5 meter. Yang terakhir jangan lupa kita siapkan juga batu yang tidak terlalu berat dan kalau bisa agak gepeng dan bisa diberdirikan supaya memudahkan kita sewaktu membawanya di punggung kaki.

Setelah semua siap, tim yang bermain lebih dulu akan berjajar di garis lempar. Secara bergiliran setiap anggota tim akan melemparkan batu yang diletakkan di atas punggung kaki mereka ke arah batu lawan yang sebelumnya diletakkan secara berdiri. Melemparnya juga tidak sembarang melempar, kita harus mendekati garis lempar dengan cara ‘engklek’ terlebih dulu sebelum nantinya ‘menyorodotkan’ batu itu.

Jika si pelempar tidak mengenai batu lawan, dia harus melempar batu itu lagi dari tempat batu itu jatuh. Tapi kali ini dia harus melempar melalui kedua kolong kaki dengan tangan. Jadi dia harus jongkok dan melemparkan batu itu melewati kolong kakinya. Tim pelempar harus menjatuhkan semua batu lawannya untuk menjadi pemenang karena kalau tidak tim mereka akan giliran menjadi tim penjaga.

Seperti disebut di awal tadi, permainan Sorodot Gaplok ini memiliki unsur edukasi yang sangat kuat. Karena ternyata permainan ini bisa melatih kerjasama tim, meningkatkan jiwa sportifitas dan juga bisa melatih konsentrasi seseorang. Selain itu permainan ini juga bisa melatih kepemimpinan serta ketangkasan seseorang. Jadi mari kita bermain Sorodot Gaplok sekaligus bernostalgia.

7. ENGKLEK
Di era sekarang permainan merupakan bukan hal yang langka, sangat mudah kita menjumpai permainan dengan berbagai media penggunaannya. Mulai dari beraneka mobil-mobilan, robot sampai game yang bisa kita mainkan melalu gadget kita, baik yang online maupun offline. Dibalik menjamurnya permainan modern saat ini, ternyata masih ada beberapa permainan tradisonal yang banyak dimainkan oleh anaka-anak zaman sekarang, terutama anak-anak di pelosok desa. Salah satu permainan tradisional tersebut adalah engklek.

Engklek ini merupakan salah satu permainan tradisional yang sangat populer di Indonesia, banyak anak-anak yang memainkannya. Saking populernya banyak orang Indonesia yang menganggap engklek sebagai permainan khas tradisonal Indonesia. Padahal sebenarnya engklek ini berasal dari negeri Pizza, Italia, tepatnya dari Kota Roma.

Di Roma sendiri permainan ini disebut dengan Hopscotch yang berasal dari kata Hop (melompat) dan srcotch (garis-garis), karena memang cara bermainnya adalah dengan melompat diantara berbagai garis yang digambar di tanah. Awalnya permainan ini digunakan untuk melatih kekuatan, kecepatan dan stamina para prajurit Roma dalam upaya penjajahan di Glasgow, Skotlandia. Saat itu arenanya sendiri dibuat dengan ukuran yang sangat besar, 31 meter.

Setelah Glasgow jatuh ke tangan Roma, para tentara Roma kemudian mengajarkan berbagai gaya hidup orang Roma termasuk mengajarkan anak-anak Glasgow untuk bermain Hopscotch. Permainan ini kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru dunia dan menjadi permainan yang sangat populer di kalangan anak-anak Amerika, Asia dan Eropa.

Nama engklek atau sondah juga diduga berasal dari kata zondag-maandag. Kata itu berasal dari Belanda yang kemudian menyebar ke nusantara pada zaman kolonial. Pada zaman penjajahan, kerap dijumpai anak-anak perempuan Belanda yang bermain sondah. Hingga setelah Indonesia merdeka dari penjajahan, permainan tradisional ini tetap bertahan dan menjadi semakin populer di kalangan anak-anak kecil di Indonesia.

Oleh karena itu, di Indonesia sendiri permainan ini bisa kita jumpai mulai dari Sabang sampai Merauke. Namanya juga berbeda-beda di setiap tempatnya, di Jawa permainan ini disebut engklek, di sebagian Jawa Barat ada yang menyebutnya sondah, orang Palembang menyebutnya cak engkle, di Manado disebut enge-enge, dan masih banyak lagi sebutannya. Sangat menarik yah sobat misterianeh.com

8. PEREPET JENGKOL
Perepet jengkol jajahean
Kadempet kohkol jejeretean

Eh jaja eh jaja eh jaja eh jaja
Kalau anda berasal dari etnis suku Sunda lagu di atas sudah tidak asing lagi di telinga anda, tapi bagi masyarakat lainnya belum tentu tahu arti sebenarnya dari lagu itu. Mari kita ulas bersama, sedikit tentang permainan jaman dulu di daerah Sunda ini, ya salah satunya adalah permainan perepet jengkol seperti lagu di atas. Sobat pasti tahu kan jengkol itu apa? Ya, jengkol merupakan bahan makanan yang sering kita jumpai di warteg-warteg dan tentu saja sangat disukai oleh berbagai masyarakat Indonesia walaupun dengan aroma yang sangat menyengat seperti bua petai dan durian.

Meski nama permainannya adalah perepet jengkol tapi sebenarnya dalam permainan tersebut sama sekali tidak melibatkan jengkol. Dari beberapa sumber sana sini tidak ada yang tahu kenapa permainan ini dinamakan perepet jengkol, yang pasti permainan ini sudah ada sejak dulu. Malah konon katanya pada zaman dulu permainan ini biasanya dimainkan ketika malam terang bulan. Jadi, waktu dulu saat terang bulan seperti itu anak-anak kampung akan keluar rumah untuk bermain di halaman. Perepet jengkol ini dilakukan sedikitnya oleh tiga orang, namun akan semakin ramai kalau dimainkan oleh lebih dari tiga orang. Cara bermainnya seperti ini:

1. Para pemainnya berdiri sambil membelakangi temannya masing-masing kemudian para pemainnya saling berpegangan tangan atau merangkul juga boleh asal saling mengikat saja.

2. Setelah itu, salah satu kaki setiap pemainnya diangkat kemudian dikaitkan dengan kaki pemain lainnya yang diangkat juga, kaki mereka tersebut dianyamkan hingga kuat. Jadi, kaki pemain yang satu dengan pemain yang lainnya saling terkait.

3. Kalau pertahanan kakinya sudah kuat, masing-masing pemain harus menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh dan satu per satu mulai melepaskan tangannya.

4. Jika sudah seperti itu, semua pemain meloncat-loncat bergerak berputar ke arah kanan atau kiri tergantung kesepakatan bersama. Sambil berputar semuanya melantunkan lagu yang ada di atas sambil bertepuk tangan.

5. Semakin lama putarannya akan semakin cepat hingga akhirnya keseimbangan para pemain tidak dapat dipertahankan lagi dan semuanya berjatuhan.
Tidak ada pihak yang dinyatakan menang atau kalah dalam permainan ini karena permainan ini hanya dimainkan untuk bersenang-senang. Meski begitu, permainan perepet jengkol memberikan sebuah pelajaran bagi kita, yakni mengajarkan kita untuk bisa bekerja sama dengan yang orang lain. Di saat kita bisa saling bekerja sama serta mendengarkan petunjuk satu sama lain maka keseimbangan itu pun akan terjaga dengan baik. Namun, di saat kita sudah lemah dan tidak lagi bisa diajak kerja sama, jatuhlah semuanya. Kurang lebih seperti itulah permainan tradisional daerah Sunda ini. Permainan zaman dulu itu tidak sembarang permainan tetapi selalu ada makna dibalik semuanya.

9 . LOMPAT TALI
Permainan Tali Merdeka adalah sebutan untuk mereka yang tinggal di Provinsi Riau. Di daerah yang masyarakatnya adalah pendukung kebudayaan melayu ini ada sebuah permainan yang disebut sebagai tali merdeka. Inti dari permainan ini adalah melompat tali karet yang tersimpul. Lompat tali adalah salah satu permainan yang masih dijumpai hingga sekarang. Permainan ini bisa digunakan sebagai olahraga yang menyehatkan badan. Alat yang perlu disiapkan hanyalah tali karet. Untuk dapat memainkannya dibutuhkan lebih dari 3 orang. 2 orang memegang ujung-ujung tali dan orang lainnya melompat dengan tahap yang semakin lama semakin susah. Sebelum permainan dimulai, dilakukan perjanjian dalam melakukan permainan ini. Boleh apa tidaknya saat tali terkena badan dan lain sebagainya. Pemenangnya ialah ia yang bisa melewati tahap paling susah.

Ingatkah anda jika sepulang sekolah dahulu anda bermain lompat tali di halaman rumah? Lompat tali ini cukup populer karena hanya memerlukan beberapa karet gelang yang disusun memanjang. Variasi dalam lompat tali juga sangat banyak. Bahkan hampir setiap daerah memiliki mekanisme bermain yang berbeda-beda.

10.  LAYANG-LAYANG
Layang-layang adalah permainan di udara yang sering dimainkan tak hanya oleh anak-anak melainkan juga orang dewasa. Permainan ini masih sering dimainkan sampai sekarang, bahkan ada beberapa komunitas yang memfokuskan kegiatannya dengan bermain layang-layang.

Layang-layang sangat populer bagi masyarakat kebanyakan. Biasanya layang-layang dimainkan disaat musim kemarau karena pada saat musim ini tidak turun hujan dan angin berhembus dengan kencang yang bisa membuat layang-layang terbang dengan mudah dan stabil. Tiap daerah biasanya memiliki jenis layang-layang dengan bentuk yang bebeda-beda dan juga dengan ukuran besar kecil yang beraneka macam, ada yang berbentuk meyerupai  burung, persegi sampai berbentuk manusia. Yang paling  menarik pada masa dahulu adalah apabila layangan putus biasanya teman kita mengejarnya untuk mendapatkan layangan itu, bahkan apabila layangan itu nyangkut dipohon pun kita panjat, yah itu lah asyiknya permainan masa lampau.

Itulah 10 permainan tradisional Indonesia yang dulu sangat populer, namun seiring perkembangan zaman permainan tradisional seperti diatas sangat sulit kita jumpai lagi. Begitu cepatnya teknologi berkembang melahirkan begitu banyak inovasi  termasuk melahirkan berbagai macam permainan-permainan yang bisa didapatkan dengan mudahnya, tetapi bagaimanapun juga permainan tradisional merupakan salah satu kekayaan budaya yang mustinya harus kita lestarikan sebagai bukti betapa berbudayanya bangsa kita di masa lalu.

Sumber : kaskus, berbagi

Share this

0 Comment to "HARUS DI LESTARIKAN. 10 permainan tradisional ini hampir punah"